Rabu, 21 Mei 2014

“TRUE STORY” Secuil Kisah Awak Hiu Kencana, Para Manusia Bawah Air (part 5)

0
Type 206A submarines

Jadi Crew KS U-206 Jerman Saat Latihan Nato 

Dalam mempersiapkan diri untuk mengawaki dan membawa pulang KRI Cakra 401, KS type U-209 buatan HDW Jerman, Awak KS TNI.AL dilatih di KS type U-206 milik German Navy yang berbobot hanya sekitar 450 ton. Kebetulan banget bahwa saat Awak KS kita melaksanakan sadaca, waktunya itu bersamaan dengan waktu pelaksanaan latihan bersama Angkatan Laut Negara-negara NATO yang disebut dengan sandi “NATO TEAM WORK 80”.

Saat itu empat orang perwira Awak KS kita dipimpin kapten G.R.Indiyanto (calon Palaksa KRI Cakra 401), berada dikapal selam U-22 tipe U-206 yang berperan sebagai pihak Merah dan ditugaskan menghadang Battle Group NATO di perairan sekitar Swedia. Ketika saatnya tiba komandan kapal yang orang Jerman membawa U-22 bermanuver demikian lincahnya mencegat dengan mendekati sebuah KS Amerika yang bertenaga Nuklir. Detik demi detik dilalui dan semua posisi dari waktu ke waktu dicatat dengan cermat dalam journal. Sampailah U-22 ke suatu posisi point blank range / titik mati penembakan torpedo (suatu titik yang demikian dekatnya dengan kapal lawan, sehingga probabilitas lawan untuk selamat dari tembakan torpedo kita relative nol),

Komandan U-22 ini menggunakan pengetahuannya tentang sifat propagasi sonar didaerah khusus dimana mereka akan beroperasi, yang diperolehnya dari sub-chart (submarine chart, yang amat rahasia, bahkan meliriknya saja, saat peta itu digelar di meja peta Perwira Navigasi, Awak KS kita tidak diperbolehkan!) dan memanfaatkan layer-layer lapisan air laut tertentu yang akan mengaburkan signal kehadiran kapalnya. Tetapi sebaliknya akan memperjelas signal kehadiran kapal lawan. Suara satu pompa pendingin reactor KS Nuklir saja memang sudah jauh lebih berisik daripada motor listrik pokok KS U-22/206 yang hanya berbobot empat ratus ton.

Komandan KS pun memerintahkan menembakkan torpedo secara simulasi, dengan salvo dari dua peluncurnya. Setelah itu U-22 melakukan withdrawal alias pengunduran diri dari lokasi peperangan dan kembali ke tempat yang aman menunggu lewatnya mangsa yang baru. Selama itu mulai dari proses approach, torpedo attack sampai withdrawal, tidak ada satupun tanda-tanda bahwa pihak lawan mengetahui kehadiran sebuah KS kecil U-22/206 yang telah “menikam” mereka dari jarak yang demikian dekatnya.

Tidak ada manuver avoiding/penghindaran yang akan menunjukkan bahwa pihak lawan menyadari kehadiran U-22. Ketika kemudian U-22 yang di dalamnya ada Awak KS kita sempat naik ke kedalaman periskop dan melaporkan keberhasilan tersebut kemarkas KS pihak “Merah”, segera muncul telegram yang berbunyi “bravo zulu, ticket to Siberia cancelled”!

Keberhasilan U-22/206 menenggelamkan KS Nuklir Amerika ini dibukti kan kebenarannya dalam wash up yang dilakukan kemudian di AWU, (semacam attack teacher KOLATARMA kalo di kita), di markas U-boot Flotile I (Flotila Kapal selam Jerman I) di Eckernforde. Komandan U-22/206 (yang cuma berpangkat kapitan leute nant, setingkat kapten kita), menyatakan bahwa KS nya berhasil menenggelamkan KS Nuklir Amerika.


Komandan KS Amerika (yang berpangkat captain of the Navy, setara dengan kolonel kita) tentunya merasa enggak terima dan meminta sang kapten muda Jerman membuktikan ucapannya. Sang kapten lalu membuka journal U-22 dan meminta dengan hormat agar sang Colonel US Navy itu mencocokkannya dengan journal KS Nuklir sang kolonel. 
Ternyata benar bahwa pada hari, tanggal dan waktu yang diklaim oleh sang kapten, kedua KS secara bersamaan memang berada dalam posisi point blank range yang amat dekat satu sama lain, hanya 600 meter. Sang Komandan KS Nuklir Amerika terpaksa geleng-geleng kepala, sebab kalau saja ini perang beneran bisa dipastikan ia dan seluruh Awak KS nya pasti sudah modar semua saat itu!

Kenapa bisa begitu?

Keberhasilan ini disebabkan karena KS sang kapten dari tipe U206/U-22 yang relatif kecil memiliki suatu noise signature, sonar signature maupun magnetic dan thermal signature yang amat kecil dan sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak dapat dideteksi oleh sensor KS Nuklir yang sebenarnya jauh lebih canggih akan tetapi tidak dapat mendengarkan dengan lebih baik karena relative “tuli” oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh peralatan bantu serta desing suara turbin mereka sendiri yang memiliki angka db (decibel) yang relatif amat tinggi.


Laksamana Muda Dr. Syamsul Anwar

Untuk Para Silent Warrior Pinisepuh pasti kenal dengan sosok Beliau yang satu ini, ya Beliau adalah satu-satunya dokter (saat itu) yang bertugas salah satunya adalah untuk menjaga kesehatan awak KS kita.

Pada tahun 1987 sekelompok Perwira KS kita memperoleh perintah untuk berangkat ke Jerman mempersiapkan diri untuk mengawaki KS baru buatan HDW dari tipe U-209 / klas 1300 ton. Mengingat bahwa kemudian perjalanannya menuju ke Indonesia yang akan memakan waktu dua bulan lebih maka untuk menghindarkan hal buruk dalam kaitan kesehatan awak KS kita, Pimpinan Angkatan Laut telah menentukan kebijaksanaan untuk mengikut sertakan seorang Dokter dengan spesialisasi KS guna mengikuti perjalanan jauh ini, dan pilihan tentu saja jatuh pada Dokter Syamsul Anwar

Beliau datang di GPA (Gedung Punggahan Awak) KS tipe U-209 di Kiel, yang lebih dikenal dengan julukan “Istana Drakula” dan terletak dipojokan jalan Gross Ebenkampf Kiel sekitar tiga bulan sebelum KS harus berlayar kembali ke Indonesia. Kedatangannya tentu saja disambut Awak KS kita dengan gembira

Untuk merokok, Dokter yang satu ini (maaf jangan marah ya pak hehehe… ), tidak pernah memberikan contoh yang baik, karena beliau ini malah merokoknya itu lho, nglecis banget. (perokok berat!).

Komentarnya kalau ditegur oleh Pak Tedjo tentang kebiasaannya merokok: “Dokter kok malah nguwehi contoh elek, ngrokok” (Dokter kok malahan memberikan contoh yang jelek, merokok. walau sebetulnya Letkol Tedjo Purnomo sendiri yang komplain juga nglecis alias perokok yang luar biasa beratnya juga, habis yang satu langsung disambung satu batang lagi! hehehe…). 
Jawabannya beliau dengan adem ayem adalah: “ aku iki ngrokok ngono lak aku Dokter, dadi lek sakit iso nambani awakku dewe, lha sampeyan lak dudu dokter, nek loro arep nambani awak lak kudu leren golek dokter disik” ( aku ini walau merokok begitu kan dokter, jadi kalau sampai sakit bisa mengobati diri sendiri, lha kalau Kamu kan bukan dokter, kalau sakit ya berobat kan dan harus cari dokter dulu)

Singkat cerita akhirnya KS KRI Cakra / 401 berangkat pulang ke Indonesia. Dalam perjalanan dari Kiel ke salah satu pelabuhan di Spanyol, Cadiz, yang cukup jauh dan ditempuh sekitar dua minggu pelayaran berjalan normal-normal saja. Akan tetapi perjalanan berikutnya dari Cadiz ke Jibouti yang memakan waktu juga hampir dua minggu, nah mulailah tampak keanehan-keanehan khususnya bagi dokter Syamsul Anwar. Mengapa? Ya karena beliau tidak memiliki suatu kesibukan yang harusnya dapat mengisi waktu senggang tersebut. 
Kalo para awak kapal semua memiliki tugas tertentu, dalam sehari mengalami dua kali tugas jaga dengan lama tugas empat jam. Jadi waktu seolah-olah pergi dan datang dengan tidak terasa. Tapi tidak bagi dokter Syamsul Anwar, yang tidak punya kesibukan tertentu semacam ini ternyata malah menjadi beban. Saking bingungnya mencari pengisi waktu beliau sempat-sempatnya mengukur panjang ruang hidup kapal dari haluan keburitan dengan ukuran panjangnya telapak kaki beliau. Hehehe…

Kalau kami setelah kelelahan sehabis jaga berangkat pergi tidur, beliau malah duduk-duduk di longroom, bibirnya berkomat kamit berzikir dan berdoa untuk kita agar selamat sampai ke Indonesia, dan syukur alhamdullillah berkat doa Beliau KS kita memang selamat sampai ke Indonesia. Terus terang saja selama perjalanan itu para Awak KS kita merasa kasihan melihat beliau yang tampak seperti seorang pesakitan yang ditahan diruang tahanan, walaupun ruang itu sebenarnya adalah long room kapal. Dari situasi inilah timbul kelakar bahwa peran sekarang berbalik, beliau bukan seorang dokter di antara ke tiga puluh tujuh pasiennya alias para awak KS kita, tetapi justru beliau adalah seorang pasien diantara tiga puluh tujuh dokter. 
Hehehe…

(Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk beliau…. )

Whiskey Class Submarine
Whiskey Class Submarine


Jamming Rusia

Tahun 1981, tepatnya menjelang acara HUT ABRI tanggal 5 Oktober, sejumlah alutsista (peralatan utama sistem senjata pertahanan) yang konon keseluruhannya kita beli dari Negara Barat termasuk juga Kapal Atas air maupun KS kita yang baru dibeli dan tiba dari Jerman sedang berada di laut di daerah Cilegon, Jawa Barat (sekarang Banten)

Semua melaksanakan latihan dalam mempersiapkan diri guna pelaksanaan acara HUT ABRI 5 Oktober, dalam gladi bersih sehari sebelum dilaksanakannya upacara, di saat semua alutsista tersebut sedang bergerak latihan tiba-tiba saja seluruh peralatan komunikasi alutsista tersebut mengalami blank. Tidak ada satupun peralatan komunikasi kita yang “bisa berbunyi” pada saat itu.

Seluruh kegiatan dengan amat terpaksa dihentikan, karena ketiadaan komunikasi akan berarti ketiadaan kendali! Suatu keputusan Pimpinan Latihan yang amat bijak, sebab, gerakan sekian banyak alutsista tanpa kendali tentunya akan dapat mengakibatkan sesuatu kecelakaan yang fatal!

KRI Cakra 401, KS type U-209 kita yang terbaru yang baru saja datang dari Jerman dan kebetulan berada pada garis terluar dilaut saat latihan itu melaporkan bahwa secara sekilas mereka melihat suatu silhoutte kapal dengan tiang yang penuh dengan antenna komunikasi yang centang perenang.

Tidak seberapa lama kemudian keseluruhan peralatan komunikasi kembali dapat berbunyi, sama mendadaknya dengan saat tiba-tiba tidak dapat berbunyi tadi. dan kejadian berfungsinya alat-alat komunikasi hampir bersamaan dengan hilangnya kapal misterius yang teramati di cakrawala tadi.

Kredit foto : Awak KS Whiskey Class saat beroperasi
Awak KS Whiskey Class saat beroperasi


Sepertinya kapal dengan tiang yang penuh dengan antenna komunikasi yang saling silang tadi adalah salah satu kapal “communication jammer” milik Uni Soviet (Rusia), diam-diam mereka masih menaruh hati juga pada kita!

Operation Sovereign Borders


Operasi Sovereign Borders Sonotan          

Kisah ini merupakan kejadian yang terbaru dari KS kita, disaat hubungan diplomatik kita sedang tegang-tegangnya dengan Sonotan terkait masalah penyadapan dan pemulangan paksa Manusia Perahu yang hendak menyeberang kembali ke wilayah terotori kita dalam bentuk operasi Sovereign Borders.

Saat itu sebetulnya KS type 636 dan 877 K4b kita sudah mengetahui pergerakan beberapa Kapal atas air Sonotan yang sering bolak-balik memasuki perairan wilayah terotori kita. KS kita juga terus membututi Kapal-kapal atas air itu dan jujur saja awak KS kita sebetulnya sudah gatal ingin menenggelamkan Kapal-kapal Sonotan yang kurang ajar itu, namun Perintah yang turun dari Pusat hanyalah “bayang-bayangi dan dokumentasikan”

Periscope shots KRI-401 Cakra.

Kenapa tidak ditorpedo aja? toh mereka telah melanggar wilayah kita.

Jawabnya adalah tidak semudah dan segampang itu mentorpedo Kapal yang diatasnya ada orang-orang pengungsi manusia perahu itu.

Kenapa KS kita tidak timbul kepermukaan buat mengahalau Kapal-kapal Sonotan itu?

Jawabnya adalah karena Pemerintah mempunyai strategi cerdik lain. Dan hanya memerintahkan KS kita untuk terus membayang-bayangi dan dokumentasikan setiap pelanggaran yang dilakukan Sonotan tanpa menunjukan jati diri KS kita yang telah menguntit.

Jadi selama itu KS kita hanya terus membayangi dan memfoto serta memvideokan aktifitas-aktifitas Kapal-kapal Sonotan yang menghalau para manusia perahu itu memasuki wilayah terotori kita. Kemudian bukti-bukti tersebut digunakan oleh Kementrian Luar Negeri kita untuk mengajukan Nota Protes resmi kepada Sonotan sana yang disertai juga selain bukti foto, film juga posisi kordinat dari Kapal-kapal Sonotan saat itu saat melanggar wilayah kita.

Hasilnya jelas Sonotan kebakaran jenggot dan tetap berkilah bahwa pelanggaran tersebut tidak disengaja, mengutip pernyataan Menteri Imigrasi Australia Scott Morrison mengatakan ia sudah mengetahui apa yang ia sebut sebagai pelanggaran tidak sengaja sejak beberapa hari lalu dan Kami akan memastikan bahwa semua isu akibat dari pelanggaran tidak disengaja atas kedaulatan teritori Indonesia ini akan diperbaiki dan tidak akan terulang lagi,kata Morrison.

Dan berdasarkan data dari kita pula mereka melakukan Evaluasi atas pelaksanaan Operasi Sovereign Borders tersebut yang kemudian dirilis resmi oleh Pemerintah Sonotan sana :


Hasil laporan resmi dari evaluasi yang dilakukan militer Australia yang dirilis Rabu (19/2/2014), mengungkapkan, bahwa Angkatan Laut (AL) Australia melanggar perairan Indonesia sebanyak enam kali. 

Aksi pelanggaran wilayah kedaulatan Indonesia itu terjadi pada Desember 2013 dan Januari 2014 dalam operasi keamanan perbatasan. Canberra sebelumnya mengklaim pelanggaran itu tidak disengaja, namun merahasikan jumlah pelanggaran yang dilakukan terhadap wilayah perairan Indonesia. Mereka juga pernah meminta maaf setelah pelanggaran itu terungkap.

”Pada setiap kesempatan pelanggaran perbatasan perairan Indonesia bukan sebagai tindakan yang disengaja atau kesalahan navigasi,” bunyi bocoran laporan evaluasi militer Australia itu, seperti dilansir Zee News.

Dan beberapa waktu lalu mereka juga memecat komandan kapal-kapal yang menerobos tersebut.

KRI Cakra-401


Siluman Laut 401

Kisah ini juga merupakan kejadian yang terbaru yang melibatkan Armada KS kita. Dimana waktu itu Kapal Induk Armada VII Amrik sedang melakukan tour of duty dan meminta izin resmi clearance untuk melewati jalur ALKI 3 kita, kisah ini lah yang disebut Cilukbaaa nya KS kita.

Saat Kapal Induk dan pengiringnya itu mulai memasuki perairan Selat / Laut Maluku mereka sudah disambut kehadiran satu KS kita yang berlayar di permukaan agak jauh dari iring-iringan dan lalu menanyakan identitas Kapal Induk tersebut “what ship, what ship” yang dibalas kemudian “we are United States man of war, Super Carrier CVN 7….” dan KS kita pun membalas “we are Indonesian man of war, submarine Cakra 401, Oke, clearence ”

Nah Saat iring-iringan Kapal Induk itu memasuki alur laut Banda, mereka kembali disambut oleh penampakan satu KS kita dan tetap berlayar agak jauh dari iring-iringan dan lalu menanyakan identitas Kapal Induk tersebut “what ship, what ship” yang dibalas kemudian “we are United States man of war, Super Carrier CVN 7…” dan KS kita pun membalas “we are Indonesian man of war, submarine Cakra 401, Oke, clearence ”

Begitu pun saat iring-iringan Kapal Induk itu memasuki alur laut Sawu, mereka kembali disambut oleh penampakan satu KS kita dan tetap berlayar agak jauh dari iring-iringan dan tetep menanyakan identitas Kapal Induk tersebut “what ship, what ship” yang dibalas kemudian “we are United States man of war, Super Carrier CVN 7…” dan KS kita pun membalas “we are Indonesian man of war, submarine Cakra 401, Oke, clearence ” tetapi kali ini mereka membalas lagi “ Oh my God, why they are different types of submarines but one name” kali ini KS kita cuma membalas “Oke, have a nice sailling” yang dibalas mereka dengan kalimat “same to you”

KRI Teluk Lampung-540


KRI Teluk Lampung

Kisah yang satu ini memang tidak ada hubungannya dengan para Silent Warrior kita, akan tetapi saya coba menuliskan kisah yang pernah terjadi ini dikarenakan ada satu hal yang mungkin bisa kita semua tiru yaitu mengenai sebuah bentuk tanggung jawab tanpa pamrih.

KRI Teluk Lampung, salah satu dari kapal type Frosch yang dipurchase dari Jerman Timur dalam perjalanannya dari Jerman kembali ke Indonesia diperairan Perancis telah mengalami terjangan badai yang sedemikian rupa hebatnya, sehingga pintu rampa depan terbuka dan air masuk kedalam ruangan ruangan dikapal.

Kapal mengalami trimm (miring) kedepan yang luar biasa besarnya dan mengalami kondisi probabilitas untuk tenggelam yang tinggi tetapi pada kenyataannya tetap tidak tenggelam.

Kenapa?

Hal ini adalah tidak lain dan tidak bukan berasal dari design “zwei kompartement schiffe”, (kapal dengan dua kompartemen) yang biasa digunakan oleh Angkatan Laut Negara Timur (Rusia). Design seperti ini biasanya memiliki sepuluh sampai dua belas ruangan, yang satu sama lain dipisahkan oleh dinding dan pintu kedap. Keseluruhan peralatan kapal yang memiliki pengaruh amat tinggi terhadap pengoperasian kapal (seperti system pendorongan, system pengendalian tempur dll) , dibagi dalam ruangan yang berbeda, yang dalam keadaan normal akan saling menujang, tetapi didalam keadaan darurat juga mampu berdiri sendiri.

Kapal yang memiliki design semacam ini dicanangkan akan tetap terapung dan bahkan akan tetap mampu bertempur juga apabila separoh dari keseluruhan ruangannya telah tergenang air akibat kebocoran.

Beberapa contoh kapal milik kita yang memiliki design ini adalah antara lain adalah kapal jenis MPK (Mally Protiwolodotsky Korabli, kapal perang kecil anti kapal selam) type Parchim, kapal LST highspeed type Frosch I dan II, serta juga kapal penyapu ranjau samudra type Kondor. (Kapal PFK Parchim, Frosch dan Kondor ini merupakan bekas kapal NVA, (Neue Volks Armee / Angkatan Laut Jerman Timur) yang telah kita “purchase dan upgrade” sebanyak tiga puluh Sembilan kapal sekaligus).

Dalam kondisi yang demikian parahnya itu kapal tersebut telah ditolong dan diselamatkan oleh sebuah kapal penyelamat Perancis, lalu diseret kesalah satu pelabuhan Perancis untuk mengalami perbaikan seperlunya dan kemudian meneruskan kembali perjalanan pulang ke Tanah Air dan tiba di Indonesia dengan selamat.

Pada saat keseluruhan awak kapal akan dievakuasi oleh team penolong dari Perancis, (karena keadaan kapal yang dianggap telah amat kritis) sang Komandan Kapal saat itu Mayor Laut Tedjo Edhi Purdiyanto, menolak untuk ikut dievakuasi dan memilih tetap tinggal dikapal dan bahkan bila perlu apabila kapal sampai tenggelam, memilih akan ikut tenggelam bersama kapalnya!

Karena itu mereview sejarah heroik tersebut dan tentu saja juga mereview keseluruhan kapabilitasnya yang lain, kelak dikemudian hari Beliau diangkat menjadi KSAL ;

(Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk Beliau…)

 Bersambung…..

  
“Wira Ananta Rudhiro”
 “Jalesveva Jayamahe”
 “NKRI harga mati!”

0 komentar:

Posting Komentar