Minggu, 16 Februari 2014

Media Asing Soroti Ketegangan Indonesia Singapura


JAKARTA-(IDB) : Penamaan kapal perang Indonesia, KRI Usman Harun, telah memicu ketegangan antara Indonesia dengan Singapura. Media asing pun tidak ketinggalan untuk menyoroti kondisi yang terjadi saat ini.
 

KRI Usman Harun diberi nama atas dua orang pahlawan Indonesia yakni, Usman Haji Mohamad Ali dan Harun Said. Keduanya adalah pelaku peledakan dari MacDonald House di Orchard Road pada 1965.

 

Peledakan itu terjadi ketika masa Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia, dan Singapura pada saat itu masih menjadi bagian dari Malaysia. Singapura pun menganggap Usman dan Harun sebagai pelaku kejahatan, meskipun pada 1973 lalu, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew meletakan karangan bunga di makam kedua pahlawan Indonesia itu.

 

Gencarnya pemberitaan mengenai masalah itu, media asing pun turut menyoroti hubungan kedua negara saat ini. Beberapa dari mereka memfokuskan pada batalnya kehadiran petinggi TNI dan Kementerian Pertahanan Indonesia di Singapore Airshow.

 

Sebelumnya, pihak Singapura membatalkan undangan yang diberikan kepada petinggi TNI. Namun tim akrobatik udara Jupiter, menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro akan terus berpartisipasi dalam Singapore Airshow.

 

Adapun pemberitaan media asing terkait isu ini, media Hong Kong The Standard yang menganggap KRI Usman Harun seperti teroris. The Standard menulis judul "Jakarta stands firm over `terrorist' ship" yang merujuk pada nama Usman dan Harun yang dianggap teroris oleh Singapura.

 

Sementara media-media Australia seperti The Age, the West Australia menyoroti ketidakhadiran para petinggi Indonesia dalam gelaran Singapore Airshow. Hal serupa turut diutarakan oleh Bloomberg, yang menilai ketidakhadiran para petinggi TNI ini adalah imbas dari ketegangan Indonesia dan Singapura.

 

Adapaun masalah penamaan KRI Usman Harun mulai ditanggapi oleh sejumlah pejabat tinggi di Indonesia. Kali ini Panglima TNI Moeldoko angkat bicara mengenai masalah itu.

 

"Kami setuju menggunakan nama tersebut pada 12 Desember 2012, setelah melakukan diskusi panjang, sama sekali tidak ada korelasinya dengan hal yang terjadi belakangan ini," ujar Moeldoko, seperti dilansir dari Straits Times, Selasa (11/2/2014).

 

"Penamaan tersebut tidak ditujukan untuk menimbulkan kekacauan," tegasnya.

 

Pernyataan Moeldoko ini disampaikan di tengah krisis yang sedang terjadi antara Indonesia dan Singapura akibat penamaan tersebut. Singapura bersikeras menyebut Usman dan Harun merupakan pelaku kejahatan dan tidak pantas untuk diberi gelar pahlawan.

 

Namun, Moeldoko menyebutkan Indonesia memiliki pandangan yang berbeda dengan Singapura mengenai persepsi tersebut.

 

"Kami tidak bisa menerima mereka disebut sebagai teroris. Mereka adalah abdi negara," ujar Moeldoko.

 

Ditambahkannya, Indonesia tidak akan mengubah nama Usman Harun walau kondisi saat ini Singapura mengaku sangat prihatin dengan pemilihan nama tersebut.

 

Pemilihan nama Usman dan Harun dinilai Singapura cukup kontroversial. Kedua orang ini terbukti sebagai pelaku pengeboman MacDonald House di Singapura saat Indonesia melakukan konfrontasi ke Malaysia.

 

Tetapi ditegaskan oleh sejumlah pejabat Indonesia, pemilihan nama tersebut sudah melalui prosedur yang berlaku. Ditambah, nama Usman dan Harun dipilih karena TNI AL selalu menggunakan nama pahlawan untuk setiap kapal perang yang dimilikinya.

 

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa berencana datang ke Singapura untuk menghadiri Ministerial Meeting Six Working Groups (6 WG) RI-Singapura. Padahal sebagaimana diketahui, hubungan Indonesia dan Singapura dalam beberapa hari terakhir memanas.

 

 

Namun Hatta yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) seolah tak peduli dengan hal tersebut. Bahkan dia juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pengusaha minyak dan berkonsultasi soal dukungan pembangunan kilang minyak di Indonesia.

 

Menanggapi hal tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN Teguh Juwarno berpendapat, kunjungan Hatta itu bertujuan untuk memperbaiki hubungan Indonesia dan Singapura yang saat ini tengah memanas.

 

"Perbedaan itu sebisa mungkin jangan diperuncing karena ujungnya yang akan dirugikan kedua negara. Karena itu mungkin Singapura juga harus memahami sikap Indonesia," kata Teguh, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/2/2014).

 

Teguh menambahkan, dalam kunjungannya tersebut, Hatta juga akan menemui para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Singapura.

 

"Untuk menyerap perkembangan TKI. Kita sangat geram ada TKI yang dianiaya dimasukkan dalam peti mati, dibuang ke laut, hal ini menjadi perhatian beliau juga," terangnya.

 

Di sisi lain, dilarangnya KRI Usman Harun masuk wilayah Singapura segera direspons oleh Indonesia. Menurut Menteri Pertahanan, hal tersebut sama sekali tidak jadi masalah.

 

"KRI Usman Harun akan beroperasi di wilayah teritorial Indonesia karena digunakan untuk menjaga kedaulatan negara kita," ucap Menhan Purnomo Yusgiantoro, di Kantor Kementerian Pertahanan, di Jakarta, Senin (10/2/2014).

 

"Jadi mengenai hal tentang pelarangan sama sekali tidak menjadi permasalahan. Dikarenakan kapal ini tidak akan keluar dari wilayah perairan Indonesia," lanjutnya.

 

Selain masalah itu, kekhawatiran tentang merenggangnya kerja sama militer akibat penamaan KRI Usman Harun turut dikomentari oleh Purnomo. "Kerja sama militer Indonesia dan Singapura sangat kuat dan tidak berpengaruh dengan adanya masalah Kapal Usman Harun," ujar Menhan Purnomo.

 

Sebelumnya, Pemerintah Singapura sempat menyatakan keprihatinannya tentang pemilihan nama Usman dan Harun. Kedua anggota marinir itu merupakan pelaku pengeboman Macdonald House pada 1965 saat Indonesia tengah terlibat Konfrontasi terhadap Malaysia, -Singapura saat itu merupakan bagian dari Malaysia-.

 

Namun, keberatan dari Singapura tidak dipusingkan oleh Indonesia. Menkopulhukam Indonesia Djoko Suyanto menegaskan tidak akan mengganti nama Usman Harun bahkan menyatakan, negara lain tidak boleh mengeintervensi soal pemberian nama kapal perang.

 

Merasa protesnya diacuhkan, Singapura segera mengambil tindakan. Negeri Singa memutuskan KRI Usman Harun tidak boleh masuk perairannya.

 
Singapura beralasan, melintasnya kapal itu, dapat membuka kembali luka lama dari korban Macdonald house. Serta bertentangan dengan semangat anti-terorisme yang ramai digalakan di dunia.

0 komentar:

Posting Komentar