Minggu, 16 Februari 2014

Ancaman di Negeri Cincin Api


Ancaman di negeri cincin api
Peta bencana gunung api di Indonesia (Istimewa)
Sindonews.com - Lebih dari 100.000 orang terpaksa mengungsi untuk menghindari amukan Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur yang meletus pada Kamis 13 Februari 2014 malam.

Abu vulkanik yang disemburkan gunung bertipe stratovulkan itu pun mengejutkan warga di berbagai wilayah. Tidak hanya di Jawa Timur, hujan abu juga dirasakan warga di sebagian wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Amuk Kelud menambah rangkaian sejarah bencana geologi di Indonesia, negeri dengan  keberadaan 129 gunung berapi. Banyaknya gunung berapi menjadikan Indonesia sebagai  negeri ini termasuk bagian dari ring of fire di Samudera pasifik atau disebut dengan cincin  api pasifik. Berdasarkan kenyataan itu, tidak heran bila Indonesia sering dilanda bencana berupa gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tercatat 22 gunung berapi yang berstatus di atas normal.  Selain Kelud yang sedang menggeliat dan Sinabung yang terus menerus bererupsi, 20 gunung harus diwaspadai. Tiga gunung, yakni Karangetang dan Lokon di Sulawesi Utara serta Rokatenda di Nusa Tenggara Timur berstatus siaga (level 3).

Sebanyak 18 gunung lainnya berstatus waspada (level 2) yang tersebar di berbagai provinsi yakni Gunung Marapi, Kerinci, Papandayan, Talang, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamalama, Talang, Anak Krakatau, Semeru, Dukono, Bromo, Sapotan, Gamnokora. Sangeangapi.

Banyaknya gunung berapi karena secara geografis Indonesia terletak pada titik pertemuan tiga lempeng tektonik. Tiga lempeng itu saling bertabrakan, yakni lempeng Eurasia, Indo Australia, Pasifik.

Sebagai negara yang beriklim tropis, tidak dapat dipungkiri Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah dan pemandangan yang mempesona. Tanahnya subur dan lautnya memiliki banyak ikan.  Namun di sisi lain, Indonesia menyimpan segudang ancaman bahaya geologi karena letaknya menjadi gugusan gunung berapi. Termasuk bencana gempa bumi. Ancaman itu bisa muncul kapan saja, tergantung karakteristik gunung.

Simak saja Genung Kelud yang baru menunjukkan reaksi pada 15 Januari 2014. Ditandai dengan peningkatan jumlah gempa. Pada 2 Februari, status Kelud dinaikkan dari normal (level 1) menjadi siaga (level 2).  Delapan hari kemudian, pada 10 Februari status Kelud naik menjadi waspada (level 3).

Tanpa diduga-duga, ancaman itu pun berubah menjadi kenyataan. Setelah ditetapkan berstatus awas pada Kamis 14 Februari pukul 21.15 WIB, berselang sekitar 1 jam 15 menit kemudian Kelud pun meletus. Karakteristik Gunung Kelud pernah diungkapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. "Karena gunung (Kelud) berkarakter pelan dengan indikator yang jelas sehingga bisa diprediksi. Status meningkat dari Normal ke Waspada," kata Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikkan Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Bandung Hendra Gunawan di Kantor BPBD Jawa Timur, Senin (3/2/2014).

Sebenarnya bencana di Indonesia akibat gunung meletus bukan  hal baru. Sebut saja letusan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang terjadi pada 1815. Letusanya tercatat sebagai bencana gunung api terbesar dalam sejarah modern,  Bencana tersebut merenggut puluhan ribu nyawa manusia dan semburan abu vulkaniknya pun luar biasa, terbang sampai ke benua Amerika. 

Bencana dashyat di wilayah Indonesia juga terjadi pada 1883, ketika Gunung Krakatau mengamuk. Krakatau mengeluarkan ledakan terdashyat di Samudera Hindia dan dipercaya berkekuatan puluhan ribu kali bom atom.

Tapi tahukah ternyata kekuatan letusan Tambora dan Krakatau belum seberapa jika dibandingkan letusan Gunung Samalas di Nusa Tengara Barat pada 1257. National Geoghrapic pernah melaporkan hasil penelitian yang menyebutkan semburan abu Gunung Samalas mencapai  ke dua kutub bumi.

Jika merujuk fakta bahwa Indonesia berada di jalur cincin api serta sejarah tentang bencana gunung berapi, penduduk Indonesia dituntut untuk senantiasa waspada dan terus menyempurnakan penanganan bencana.

Kenyataan itu pun disadari betul oleh pemerintah. Seperti dikutip dari setkab.go.id, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk siap menghadapi bencana dengan membangun sistem penanggulangan, memberikan pelatihan, meningkatkan kewaspadaan.

Tidak hanya itu, SBY juga mengingatkan untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar bisa mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi bencana.

0 komentar:

Posting Komentar