Selasa, 25 Maret 2014

Journey of Indonesian National Helicopter


Hanya berselang sembilan tahun dari penerbangan perdana bersejarah helikopter Vought-Sikorsky VS-300 September1949, Republik inipun telah mampu merancang helikopternya sendiri. 
( ket: Kepik karya terakhir Yum Soemarsono)

RI-H namanya, heli dengan bentuk sederhana berbodi transparan dengan rangka pipa aluminium. Bermesin sepeda motor BMW 500 cc berdaya 24 pk ini meski tak sempat diterbangkan mengudara namun inilah tonggak bersejarah perjalanan perkembangan helikopter nasional. Heli yang dibangun di desa Tarikngarum - Gunung Lawu ini hancur 19 akibat bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur P-40 Kittyhawk Belanda pada aksi militer ke-2 Desember 1948, Yum Soemarsono sang perancang tak pernah patah arang, justru memacunya untuk terus berkreasi. Tiga helikopter baru dibangunnya dalam kurun waktu 16 tahun.


Heli kedua karyanya diberi julukan YSH dari inisial namanya sendiri Yum serta Soeharto dan Hatmojo rekannya yang turut menyumbangkan dana untuk pengembangan helikopter ini. Namun nasib sial terulang kembali, heli ini rusak karena terjatuh dari truk akibat tiang rotornya tersangkut kabel listrik ketika dibawa dari Yogya menuju Kalijati. Heli ini masih menggunakan mesin RI-H yang sempat dipreteli sebelum serangan udara Belanda terjadi yang menghancurkan rangka badannya meski telah disembunyikan disemak belukar. Sempat pula diuji coba dan mengudara walau hanya beberapa centimeter dari atas tanah.
(ket: LAPIP X-06 Kolentang)
Tahun 1954 dibangun helikopter ke-3 yang sedikit lebih besar dibanding YSH, dengan nama Soemarkopter yang dibangun di Bengkel Induk 90 - Bandung. Heli bermesin dengan daya 60 pk ini justru diterbangkan pertama kali oleh Leonard Paris, yang kebetulan berada di Indonesia bertugas sebagai teknisi sekaligus merangkap instruktur helikopter Hiller yang dibeli Indonesai saat itu. Terbang setinggi satu kaki pada 10 April 1954. Ketika Yum belajar terbang helikopter ke Amerika Serikat, heli ini ditipkannya di LAPIP, namun ketika kembali tahun 1955 heli ini tak ada ditempatnya, raib tanpa bekas entah kemana.
Ketika menjadi pilot heli kepresidenan pada tahun 1963, Presiden Soekarno sempat memberi dorongan kepadanya untuk membuat helikopter kembali. Heli ke-empat yang diberi nama Kepik oleh Presiden Soekarno ini dibuat di bengkel AU Hussein Sastranegara - Bandung. Pada tanggal 22 Maret 1964 di halaman Pindad, Yum mencoba menerbangkan heli ini, namun setelah terangkat dari tanah rotor utama terlepas yang menyabet lengan kirinya hingga putus serta meminta korban nyawa seorang pembantu dekatnya. Inilah akhir karya bapak helikopter nasional ini.
(ket: LAPIP X-08 Mayang)
Kemandirian dalam upaya pengembangan helikopter nasional juga dilakukan LAPIP (Lembaga Persiapan Industri Penerbangan) yang berdiri Desember 1961, selain mengembangkan pesawat ringan sayap tetap juga berhasil membuat helikopter ringan eksperimental sebanyak dua jenis. Yang pertama gyrocopter yang diberi nama X-06 Kolentang berhasil mengudara tahun 1962 dan sebuah lagi helikopter satu penumpang X-08 Mayang yang terbang perdana 25 Maret 1964. Kedua prototype helikopter ini sempat diperlihatkan untuk umum dalam pameran Research Nasional I di Gedung Pola - Jakarta bulan Juli 1965.
*catatan redaksi: Kisah perjalanan helikopter nasional akan dilanjutkan ke bagian 2. Di bagian kedua, pembaca dapat menyimak perjalanan Helikopter Nasional di era modern

(bagian ke-2)
Era Heli Modern
Dengan diresmikannya Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada bulan Agustus 1976 oleh Presiden Soeharto yang merupakan penggabungan potensi beserta aset dan fasilitas yang dimiliki divisi ATTP- Pertamina dengan aset Lembaga Industri Pesawat Nurtanio (LIPNUR) milik TNI AU di Bandung, maka terbukalah cakrawala baru industri kedirgantaraan nasional yang lengkap sarana-prasarana serta tersedianya SDM yang cukup. Tokoh aeronautic kaliber dunia DR. BJ. Habibie diangkat sebagai Direktur Utama segara mencanangkan misi dan program industri kedirgantaraan yang modern ditanah air melalui cara ‘evolusi yang dipercepat’ dengan cara alih teknologi dari negara maju.
Produksi pertamanya adalah pesawat fixed wing NC-212 Aviocar yang mendapat lisensi dari CASA Spanyol dan untuk rotary wing pertamanya helikopter ringan serbaguna NBo-105 yang juga dibuat berdasar lisensi dari MBB Jerman. Pada bulan November 1977 IPTN kembali melakukan kerjasama dengan Aerospatiale Perancis memproduksi secara lisensi helikopter NSA-330 dan NAS-332 Super Puma. Lima tahun kemudian pada bulan yang sama November 1982, dilakukan kerjasama serupa dengan Bell Helicopter Textron Amerika Serikat untuk memproduksi helikopter NBell-412 di tanah air.
Seperti halnya kerjasama lanjutan antara CASA dengan IPTN yang melakukan joint venture mendirikan Aircraft Technology Industries (Airtech) pada tahun 1979 untuk mengembangkan pesawat CN-235, hal serupa dilakukan IPTN dengan MBB untuk memproduksi helikopter ringan bersama dengan membentuk usaha patungan bernama New Transport Technology (NTT). 

Proyek pertamanya adalah mengembangkan helikopter ringan serbaguna yang bisa diaplikasi untuk berbagai keperluan baik untuk angkut penumpang, heli latih, surveillance & observation, SAR maupun MedEvac. Penandatanganan kerjasama dilakukan di Munich Jerman pada bulan April 1984.
Heli dengan nama BN-109 (Bolkow Nurtanio-109) ini sekelas dengan Bo-105 namun menggunakan mesin turbin tunggal agar penggunaan bahan bakar lebih efisien mengingat pada masa itu harga BBM dunia melonjak. 

Heli ini dirancang agar mudah dioperasikan, mudah perawatan serta memiliki biaya operasional yang rendah. Dengan spesifikasi MTOW 1200 kg, kecepatan maksimum 200 km/jam dan jarak tempuh hingga 500 km yang mampu mengangkut 4 orang penumpang. Namun dengan normalnya kembali harga BBM dunia dipenghujung tahun 80-an program ini surut terhenti pada tahap preliminary design dan meninggalkan mock-up 1:1 saja.
Ditengah hingar bingarnya perayaan menyambut 50 tahun kemerdekaan Indonesia, IPTN yang telah berubah nama dari Nurtanio menjadi Nusantara terus memompa semangat untuk makin mandiri. Setelah berhasil dengan proyek N-250, divisi (SBU) helikopter-pun turut mencanangkan dua proyek helikopter sekaligus. Yang pertama NH-2 ALCLH (Advanced Low Cost-Light Helicopter) berkapasitas dua penumpang sebagai heli latih serta untuk transport dengan menggunakan mesin piston dan NH-5 berkapasitas 5 penumpang serupa dengan proyek BN-109. Keduanya sempat dipamerkan di ajang IAS 96 walau hanya berupa model skala. 
Akibat badai krisis moneter yang melanda Indonesia ditahun 1997, kembali memporak porandakan mimpi Indonesia untuk membangun helikopternya sendiri. Sekarang dibawah nama baru PT DI, SBU helikopter diberi kepercayaan oleh Eurocopter untuk melanjutkan produksi helikopter serbaguna kelas medium NAS-532 Cougar mulai tahun 2008 lalu. Selain itu PTDI juga telah menandatangani kerjasama lanjutan dengan Eurocopter untuk mengembangkan heli ringan Fennec dan Ecuirrel di tanah air untuk menggantikan NBo-105 yang lisensinya telah berakhir tahun 2009 lalu. 

0 komentar:

Posting Komentar