Jiwa ke-PKNinsme dalam diri seorang siswa

Ayo latihan soal PKN di sini.

Bergabung bersama kami dan selamatkan indonesia.

Jangan Hanya Menjadi Penonton Dalam Perkembangan Dunia.

Persenjataan Untuk Menyerang

Ayo lihat di blog ini.

Pro Evolution Soccer 2014

Lihat di Blog ini.

Sabtu, 12 Juli 2014

SKIPI Kapal Anti Ilegal Fishing Produksi Indonesia


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menganggarkan dana ratusan miliar rupiah untuk pengadaan kapal canggih berukuran besar atau Sistem Kapal Inspeksi Perikanan Indonesia atau SKIPI. Kapal ini akan difungsikan untuk memberantas praktik pencurian ikan (illegal fishing) di perairan laut Indonesia.

KKP telah memesan 4 buah kapal SKIPI dari salah satu produsen kapal laut di dalam negeri, PT Daya Radar Utama. Proses pemesanan sudah berlangsung sejak tahun 2013 dengan nilai kontrak satu kapal mencapai Rp 140 miliar atau totalnya Rp 560 miliar.

"Kita bangun 4 kapal SKIPI. Satu kapal nilainya Rp 140 miliar," kata Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Syahrin Abdurrahman saat ditemui di ruang kerjanya, di Gedung Minabahari III, Kantor Pusat KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (8/07/2014).

Kapal SKIPI ini termasuk kapal besar dengan panjang 60 meter. Kapal ini mayoritas dibuat dengan bahan baku baja asli yang kuat dan tahan lama. Teknologi yang digunakan pun cukup canggih, kapal dilengkapi sonar dan penginderaan jarak jauh serta mesin handal buatan MTU Jerman.

"Kita lihat ya spesifikasinya. Satu kapal SKIPI ini nilainya sama seperti kita bangun GMB (Gedung Mina Bahari) IV. Spesifikasinya hebat. Bahkan banyak orang menganggap mesin yang digunakan paling hebat, kita pakai MTU Jerman ini paling hebat. Kita panggil pakar ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Mesin MTU itu digeber 10 jam nonstop masih meringis-ringis," paparnya.

Kapal ini nantinya akan disebar kedua wilayah perairan Indonesia yaitu bagian Timur dan Barat Perairan Indonesia. Wilayah operasi mencakup spot zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia yang rawan tindakan illegal fishing.

Daerah-daerah itu mencakup Laut Arafura dan Utara Laut Sulawesi (Timur Indonesia) dan Barat Natura serta Laut China Selatan terutama segitiga emas antara Indonesia, Malaysia dan Thailand.

"Intinya kita harus lebih pintar. Kalau kita lebih rapi, kecil kemungkinan terjadi pelanggaran di laut," cetusnya.

Spesifikasi Kapal SKIPI

Empat kapal SKIPI ini mampu tahan berlayar hingga 14 hari karena memiliki ukuran tangki bahan bakar yang lebih besar. Daya bertahan ("endurance") itu jauh lebih tinggi dari 27 kapal patroli pengawas yang kini dioperasikan Ditjen PSDKP yang hanya mampu bertahan dua hari sebelum harus mengisi ulang bahan bakar.

Dengan daya tahan yang cukup lama, empat kapal SKIPI ini diharapkan dapat melakukan patroli semaksimal mungkin dan menjaga potensi perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) daerah Timur dan Barat Indonesia.

"Rencananya dua ditempatkan di wilayah Timur (Stasiun Tual) dan Barat (Stasiun Batam atau Pontianak)," ujar Direktur Kapal Pengawas Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Budi Halomuan.

Kemudian, jarak pantauan radarnya bisa mencapai 120 mil laut (1 mil : 1,8 kilometer), dibandingkan kapal patroli biasa yang hanya 36 mil laut. Kapal yang didesain ini memiliki kecepatan 26 knot.

Posturnya pun lebih gagah dengan panjang 60 meter, dibandingkan kapal patroli biasa yang berukuran 42 meter.

"Akan terdapat ruang laboratorium yang lebih luas dan juga ruang tahanan (untuk nelayan ilegal yang ditangkap)," ujar dia.



Rusia Berhasil Uji Coba Rudal S-500


Rusia berhasil melakukan uji peluncuran rudal pencegat jarak jauh yang akan menjadi bagian dari sistem rudal pertahanan udara baru generasi kelima "S-500," kantor berita Rusia ITAR-TASS melaporkan Senin, 7 Juni 2014.
 

ITAR-TASS mengutip pernyataan seorang sumber anonim di Kompleks Industri dan Pertahanan Rusia, mengatakan bahwa peluncuran dilakukan pada akhir Juni.

 

"Semua tujuan dan tugas yang ditetapkan dalam even ini terpenuhi sepenuhnya," kata sumber anonim seperti dikutip ITAR-TASS.

 

Sebagai bagian dari program modernisasi pertahanan Rusia yang sudah didanai sampai tahun 2020, gabungan perusahaan pertahanan Rusia, Almaz-Antey, saat ini sedang mengembangkan sistem rudal pertahanan udara generasi baru S-500.

S-500 dikembangkan untuk melampaui kemampuan sistem rudal pertahan udara S-400 Triumph (rival dari sistem pertahanan rudal AS "RAS-3" - model terbaru dari sistem rudal pertahanan udara Patriot) yang saat ini sudah digunakan militer Rusia. S-500 sendiri bukanlah merupakan upgrade dari S-400, dan S-500 akan disebarkan bersama S-400.

Dengan perkiraan jangkauan deteksi 600 km, sistem rudal permukaan ke udara ini dirancang untuk mendeteksi dan mencegat sepuluh target aerodinamis dan rudal balistik antarbenua secara simultan yang terbang dengan kecepatan tujuh kilometer perdetik di ketinggian berapapun (beberapa laporan menyebutkan hingga 400 km). Selain itu S-500 juga dirancang untuk mencegat rudal jelajah hipersonik, dan sebagai senjata pertahanan dari pesawat airborne early warning and control, airborne warning and control system, dan jamming.

Sebelumnya, seorang pejabat tinggi di Kementerian Pertahan Rusia mengatakan bahwa S-500 akan mulai diproduksi selambat-lambatnya tahun depan, dan pada laporan lain disebutkan bahwa S-500 akan mulai disebarkan pasukan pertahanan udara Rusia mulai tahun 2017.


Sumber : Artileri

Singapore Buys MBT Merkava Mk 4 ?



Merkava Mk IV MBT (photo : Military Today)

Source IntelligenceOnline.com reports that Singapore will be the first foreign buyer of major Israeli tanks series Merkava. According to these reports, Singapore signed a contract for the purchase of 50 tanks Merkava Mk 4 new construction. According to the resource, the transaction amount reaches $ 500 million 

Earlier, at the beginning of June 2014, the Israeli newspaper "Yediot Ahronot", citing a source in the Israeli Defense Ministry announced the signing of export agency of the Ministry of Defence Shibata first export contract for the Merkava Mk 4 tanks, without naming the customer and saying only that it is a country, "related long-term relationships with Israel in the field of security. "Also does not provide any details, except that the amount of the contract is "several hundred million dollars." 

Merkava tanks series produced in the Israeli public a tank factory in Tel Hashomer in 1979, however, despite the considerable interest shown in him at different times by different potential foreign customers, never exported. This let low rates of production of tanks Merkava, their high cost, as well as export restrictions by both the U.S. (acting supplier significant portion of the tank units and systems and provide partial funding for the program of the issue), and most of the Israeli Ministry of Defense. Now, for reasons mainly economic plan, Israel's Defense Ministry has issued export permits Merkava Mk 4. 

Singapore since 2007 acquired are considered 182 Leopard 2A4 tanks from the German Bundeswehr presence (part of them for use on parts and conversion into special machines), and is currently carrying out a program of modernization.
(BMPD)

Navy Launches Submarine Squadron



The headquarters building of Royal Thai Navy’s Submarine Squadron (photo : TAF)

The Royal Thai Navy’s Submarine Squadron was officially launched at Sattahip naval base in Chon Buri province yesterday. Navy chief ADM Narong Pipattanasai presided over the ceremony. 

The squadron also has a training centre for a submarine command team, which is intended to compile knowledge on submarine operations. The centre, which is equipped with a German-made submarine simulator, provides navy personnel with training, such as how to operate the sonar system. 

The submarine simulator is also linked to the anti-submarine simulator currently operated by the navy’s Fleet Training Command. 

The navy has also sent 18 navy officers to receive training in submarine technology in Germany and another 10 officers to South Korea to attend a training course on international diesel submarines.



The squadron underscores the Royal Thai Navy’s push to get submarines added to its fleet. The navy has pressed governments for years to buy submarines to help navy ships protect the Gulf of Thailand. 

In 2010, then navy commander Kamthorn Phumhiran approved a plan to set up the squadron, with expectations of having second-hand submarines from Germany. But it never passed the planning stage. 

In 2012, then navy chief Surasak Rounroengrom approved guidelines for equipping navy personnel with training on submarines, which led to navy personnel studying submarines with the help of countries who have had them for a long time. 

"Although the navy has not had submarines for 62 years, submarines are still important as a strategic and irreplaceable tool to make up for the geographical limitations of Thailand,’’ the navy said in an article to promote the underwater craft.

(Bangkok Post)

Pindad Eyes Commercial Success


Sudirman Said, the newly-installed president director of state weapons manufacturer Pindad, is planning to expand the company’s commercial activities to prevent over-reliance on military contracts.

In an interview with the Jakarta Globe, Sudirman said that around 15 percent to 20 percent of Pindad’s revenue comes from sales of commercial, or non-military, products. However, he explained, “if commercial products can contribute around 30 percent to our revenue then our cash flow will be more balanced.”

Sudirman said that the biggest challenge for Pindad was capital. Most of its orders are paid through the state budget, which means bills would be paid only after the budget was approved. In the mean time, the company must incur debts to cover its expenses.

Pindad secured contracts worth Rp 1.8 trillion ($150 million) in 2013. It has secured Rp 1.2 trillion worth of contracts so far this year, out of the targeted Rp 2 trillion.

Aside from producing military equipment and vehicles like the Anoa armored personnel carrier and the SS2 assault rifle, Pindad also sells commercial equipment like power generators, commercial explosives, and other products used for railway systems and ship manufacturing.

“We just signed a memorandum of understanding with [state utility firm] Perusahaan Listrik Negara for revitalization and maintenance of power generators,” Sudirman said.

The room for growth in commercial products looks to be quite substantial, driven mostly by the nation’s strong emphasis on infrastructure development, said Sudirman.

Producing and marketing commercial products would have the added advantage of instilling “confidence” in Pindad’s engineers, according to Sudirman. “But, our core business and competence will remain producing weapons for the military,” he added.

An accountant by education, the director spent most of his professional live as an executive with Indika Group, an energy-focused conglomerate.

He also worked for state energy firm Pertamina for two years and was involved in several programs of the Indonesian Armed Forces (TNI).

He has been Pindad CEO for a month.

Sudirman stressed his belief that Pindad is strong enough in terms of production and engineering capabilities.

“What I can bring is a touch of corporate management — commercial aspects of an enterprise,” he said. “While in terms of production, engineering and research and development, I trust the people at Pindad,” he added. “Pindad has never failed the TNI.”

Still, the company is lacking specific budget allocation for research and development, another area that Sudirman looks to improve.

“We used to develop new products by taking an old machine and upgrading it. While this proves the expertise of our engineers, things must change,” he said.

Pindad and the government must also think about the company’s future, Sudirman said.

“Financially, Pindad is very healthy. But we don’t want to be merely surviving, we have to improve and expand.”




Source : JakartaGlobe

Jumat, 27 Juni 2014

Kapal Hidro Oseanografi Pesanan TNI AL Dijadwalkan Datang Januari 2015


Kapal Hidro Oseanografi OCEA OSV190 SC WB mempunyai panjang total 60,10 m (image : Gican)

Indonesia Beli 2 Kapal Survei Canggih TNI AL US$ 100 Juta


Les Sables d'Olonne - Survei dan pemetaan laut menjadi faktor penting bagi pertahanan Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli dua kapal survei canggih dan berteknologi tinggi dari Prancis. Kedua kapal ini dibeli dengan harga US$ 100 juta. 


Kedua kapal ini tengah dikerjakan oleh OCEA S.A. di galangan kapal pelabuhan di Les Sables d'Olonne, sekitar 620 KM dari Paris. Kesepakatan pembelian dua kapal BHO (bantu hidro dan oseanografi) sudah diteken pada Oktober 2013 lalu dan merupakan tindak lanjut atas hubungan kerja sama pemerintah Indonesia dan Prancis. 


"Dulu, sebetulnya yang ikut tender juga Korea Selatan. Tapi, setelah dikaji mendalam, termasuk alat-alat dan teknologi yang digunakan, akhirnya diputuskan memesan kapal dari Prancis," kata Kepala Badan Perencanaan Pertahanan (Kabaranahan) Laksda TNI Rachmad Lubis di sela-sela memantau proses pembuatan kapal di Les Sables d'Olonne, Kamis (26/6/2014). 


Kapal ini akan dilengkapi dengan peralatan canggih di bidang oseanografi. Misalnya, kapal ini akan memiliki teknologi untuk memetakan bawah laut hingga kedalaman 6.000 meter. Juga dilengkapi dengan teknologi multi bim yang bisa mencatat gelombang dan frekuensi bawah laut dengan tepat. 


"Jadi nanti kapal ini selain bisa digunakan untuk pemetaan laut dan survei, juga bisa mendeteksi benda-benda di laut, seperti dalam pencarian pesawat yang jatuh, dan lain-lain. Kapal ini nanti juga bisa mendeteksi kapal selam musuh yang sedang sembunyi di bawah laut," kata Dan Satgas BHO, Kolonel Budi. 


Fungsi utama dari kapal ini adalah untuk pemetaan dan survei di wilayah perairan Indonesia. Data-data ini sangat penting bila Indonesia mengalami hal terburuk seperti perang. Begitu ada perang, TNI sudah memiliki data-data dari survei dan pemetaan ini, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat terkait pertahanan. 


Saat ini data pemetaan laut Indonesia sudah tidak diupdate berpuluh-puluh tahun, terutama di perairan kawasan timur. Dengan adanya dua kapal survei canggih ini, Indonesia akan bisa memperbarui data-data pemetaan bawah laut di semua perairan Indonesia. Karena kapal survei, maka di kapal ini juga dilengkapi laboratorium-laboratorium yang canggih. 


Sementara Kepala Pusat Pengadaan (Kapusada) Kemhan Marsma Asep S mengatakan desain kapal survei ini diputuskan melalui koordinasi yang mendalam antara Indonesia dengan OCEA. "Desain mengalami penyempurnaan-penyempurnaan. OCEA mengusulkan desain awal, kemudian Indonesia mengoreksi sesuai yang diinginkan kita," kata Asep. 


Kapal pertama akan selesai dibuat pada akhir September 2014. Setelah melalui serangkaian administratif, pemberian nama, dan upacara serah terima, kapal ini diperkirakan akan tiba di Indonesia pada awal Januari 2015. Sedangkan kapal kedua, direncanakan selesai dibuat pada Agustus 2015 dan akan tiba di Indonesia bulan September 2015. (Detik)



Kapal Survei TNI AL Dilengkapi Senjata Kaliber 12,7 mm dan 20 mm


Les Sables d\'Olonne - Beberapa bulan lagi TNI AL memiliki kapal survei modern yang canggih dan keren berteknologi tinggi. Kapal yang tengah dibuat di Prancis ini ‎dilengkapi peralatan survei terbaru dan juga senjata kaliber 12,7 mm dan 20 mm. Senjata ini digunakan untuk pertahanan diri. 


Senjata kaliber 12,7 mm terdiri dari dua pucuk, akan dipasang di anjungan samping kanan dan kiri. Sedangkan senjata kaliber 20 mm akan dipasang di anjungan bagian depan. 


"Senjata ini tidak besar, karena hanya sebagai self defence," kata Dan Satgas BHO (Bantu Hidro dan Oceanografi) Kolonel Budi Purwanto di sela-sela meninjau pembuatan kapal survei untuk TNI AL di galangan kapal pelabuhan Les Sables d'Olonne, Kamis (26/6/2014).


Kapal ini akan dilengkapi juga dengan laboratorium yang berteknologi modern. Kapal juga dilengkapi dengan ruang-ruang tidur tamtama, bintara, dan perwira yang cukup nyaman, karena untuk pemetaan dan survei, personel akan berada di tengah laut hingga berhari-hari. Begitu juga ada ruang makan dan ruang pertemuan yang baik. 


Kapal ini akan diawaki sekitar 41 personel, termasuk peneliti dari TNI AL. Rencananya pada bulan Juli nanti, 41 personel ini akan berangkat menuju Prancis untuk melakukan training dan pengenalan kapal. Mereka nanti yang akan membawa kapal survei pertama ke Indonesia di akhir 2014. Diperkirakan butuh waktu 5 minggu untuk membawa kapal berbobot 500 ton dari Paris hingga tiba di Indonesia. 



Kelebihan kapal ini adalah bodi kapal terbuat dari alumunium dan baja, sehingga tidak cepat berkarat. Kapal dengan panjang 60 meter dan lebar 11 meter ini juga akhirnya memiliki berat yang lebih ringan, hanya 500 ton. Padahal, kapal-kapal dengan ukuran yang sama bisa mencapai 1.500 ton. 


Lantas, apakah kapal ini akan mudah tergoyang oleh ombak karena berbobot ringan? Ternyata tidak. Saat ini telah ada teknologi baru menggunakan dynamic tank yang bisa membuat kapal lebih stabil dari goncangan ombak, meski hanya 2,5 meter bagian bawah kapal yang masuk ke dalam air laut. "Dengan bobot 500 ton, penggunaan BBM juga pasti akan lebih efisien," kata salah seorang perwira Satgas BHO. 


Saat ini 6 perwira dari Dinas Hidros (Hidro dan Oseanografi) TNI AL terus memantau pembuatan kapal survei ini. Indonesia memesan dua kapal survei dengan biaya US$ 100 juta. Kapal pertama akan selesai bulan September 2014 dan akan tiba di Indonesia awal Januari 2015. Kapal kedua akan selesai bulan Agustus 2015 dan akan tiba di Indonesia pada September 2015. 


Fungsi utama kapal ini adalah untuk pemetaan dan survei di wilayah perairan Indonesia. Data-data ini sangat penting bila Indonesia mengalami hal terburuk seperti perang. Begitu ada perang, TNI sudah memiliki data-data dari survei dan pemetaan ini, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat terkait pertahanan. 


Kapal ini juga bisa dengan cepat mendeteksi benda-benda asing dan mencurigakan di bawah laut, seperti bangkai pesawat yang jatuh atau kapal selam musuh. Kapal ini dilengkapi dengan alat-alat pemetaan tiga dimensi dan bisa menjangkau pemantauan hingga kedalaman 6.000 meter.


(Detik)

First Royal New Zealand Air Force Beechcraft T-6C Takes Flight


The first RNZAF T-6C takes off. (all photos : RNZAF)

The first RNZAF Beechcraft T-6C advanced trainer has made its first flight from Beechcraft’s Wichita facility in Kansas on June 10.


The aircraft – NZ1401 – made the flight with a Beechcraft company crew at the controls and lasted two hours, and functionality checks such as flight performance and handling characteristics were conducted. It will carry the US civil registration of N2824B while the initial flight test program is completed.




New Zealand ordered 11 T-6Cs in January to replace CT-4E trainers in the basic course, and elements of the advanced course currently conducted by the King Air. The first six RNZAF Qualified Flying Instructors (QFIs) are due to commence their conversion to the T-6C in August, and the first four aircraft will be delivered by the end of this year.


The aircraft will be based at Ohakea, and will commence pilot training in mid-2015 by which time all 11 aircraft will have been delivered.


(Australian Aviation)