Jiwa ke-PKNinsme dalam diri seorang siswa

Ayo latihan soal PKN di sini.

Bergabung bersama kami dan selamatkan indonesia.

Jangan Hanya Menjadi Penonton Dalam Perkembangan Dunia.

Persenjataan Untuk Menyerang

Ayo lihat di blog ini.

Pro Evolution Soccer 2014

Lihat di Blog ini.

Jumat, 27 Juni 2014

[World News] Developing Countries Fighter Aircraft Challenge Western Military Planes


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHkWit0ZfueBLmE9NkX487qWu2oE7KIceqnYAWax5T3cPIHAqucd87gtHvk2WCB7xBxBlc8X-k5nCX_5jU5RLA08zGcP8ymzgkbfeB4AB94pvklyRwzrt2YIuejn_q6YIGOVzI7jzzo_c/s1600/RIkfx.jpgThe sky high cost of fighter aircraft acquisition is forcing developing countries to embark on their own programs in the process challenging the price and performance of American and European fighters.

Turkey, South Korea, India, China and Pakistan claim to beat out western aircraft on cost. Though their technology may be inferior to that of Western or Russian aircraft, the level of equipment and armaments on these aircraft is considered ‘sufficient’ for their air forces.

What should worry airplane manufacturers such as Lockheed Martin, Boeing, Eurofighter, Dassault and Saab is that some of the fighter plane manufacturers from the developing countries are eyeing the export market for relatively lower-priced fighter aircraft. This has come at a time when some countries in Asia, Africa and South America are looking to replace their Vietnam-era planes such as the F-5s, Mirage F-1s and MiG-21s with more modern planes.

The South Korean KFX project which is aimed at producing F-16-class fighter jets is slated to fructify by 2023 and deploy 120 units over the following several years.

“The KFX may prove that smaller nations, when combining funds and resources, can produce a near fifth-generation aircraft that approaches the capability of a fighter produced by countries with far greater resources, such as the U.S., Russia and China. But this is unlikely. KFX, if completed, may be appealing to less wealthy nations who cannot afford the F-35”, Richard Weitz, director of the Center for Political-Military Analysis at the Hudson Institute was quoted as saying in the New York times.

Japan, whose military industry was blunted after World War II, is trying to get back into the global defence business. Its planned Mitsubishi ATD-X ShinShin developed by Japanese Ministry of Defense Technical Research & Development Institute is a first of its kind jet fighter with some advanced technology not even available in western fighters.

This fighter plane is being developed as a 5th gen fighter to form the mainstay of the Japanese Self Defence Forces. Japan plans to replace its aging fleet of F-4s and F-15s planes.

The U.S. RAND Corporation published a report on China's arms exports, claiming that the J-10 fighter jet sold for less than US$40 million; whereas by contrast, the U.S. F-16, a similar class aircraft in active service, costs US$65 million. FC-1 fighter jets, K-8 jet trainer and light attack aircraft produced from joint research and design between China and Pakistan.

Reports say that Myanmar is looking to purchase a license to domestically produce the J-17 aircraft, which is called the FC-1 Xiaolong in China. If the report is accurate, it would make Myanmar the first foreign purchaser of the jet. Currently, only Pakistan’s Air Force operates the J-17.

The JF-17 is a lightweight single engine multi-role combat aircraft developed jointly by China and Pakistan.

It can be armed with a variety of bombs and missiles including PL-5EII, PL-9C and PL-12 AAMs, C-802A anti-ship missiles, general purpose bombs, and laser guided munitions and countermeasures on its 7 hard points (four under wing, 2 wingtip, 1 under fuselage). The aircraft’s standard set of armaments are supplemented by a 23 mm GSh-23-2 twin barrel cannon or 30 mm version of the same.

The standard export price for the JF-17 Block I is $20 million and Block 2 being $25 million. Pakistan Air Force is the lone operator of the JF-17 with 54 aircraft operational including 6 prototypes.

Pakistan is the most likely buyer for the J-31, at this moment following their joint development work on the JF-17 Thunder advanced fighter.

J-31 is a twin-engine, mid-size fifth-generation jet fighter. It is said to be equipped with twin Russian RD-93 engines.

Turkey hopes that the indigenous TF-X will fly by 2023. Turkey’s aerospace powerhouse, Turkish Aerospace Industries (TAI), has been debating three designs.

Turkey's Defense Industry Executive Committee (SSIK) decided to design, develop, and manufacture an indigenous next generation air-to-air combat fighter which would replace Turkey's F-16 fleet and work together with the F-35.

India’s Light Combat Aircraft (LCA), also called Tejas has been long in development but the program has accelerated over the last few years with a limited series of aircraft flying with the Indian Air Force. The aircraft is the Saab Gripen class and is rumored to satisfy the Indian Air Force’s demand for a replacement for the MiG-21.
  ♞ defenseworld 

RI-Timor Leste Saling Klaim Lahan di Perbatasan, Satu Pulau Terancam Bisa Lepas

RI-Timor Leste Saling Klaim Lahan di PerbatasanPrajurit TNI berjaga di perbatasan Indonesia - Timor Leste di Desa Looluna, Belu, Nusa Tenggara Timur (4/7). ANTARA/Yudhi Mahatma

P
emerintah Indonesia dan Timor Leste masih mempersoalkan masalah perbatasan antara kedua negara di atas lahan seluas 1.211,7 hektare yang terdapat di dua titik batas yang belum terselesaikan.

"Masih ada dua titik perbatasan kedua negara yang belum diselesaikan antara Indonesia dan Timor Leste," kata Kepala Seksi (Kasie) Operasional Korem 161 Wira Sakti Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Letnan Kolonel Waris Ari Nugroho, Rabu, 25 Juni 2014.

Dua titik batas yang masih dipersoalkan antara kedua negara yakni wilayah di Desa Oepoli, Kabupaten Kupang, yang berbatasan dengan distrik Oecusse, Timor Leste, dengan luas 1.069 hektare.

Di daerah itu terdapat satu desa yakni Naktuka yang dihuni 45 kepala keluarga berada di zona bebas, namun mereka lebih mendapat perhatian dari pemerintah Timor Leste. "Pemerintah Indonesia tidak mengurusi warga di Naktuka, sehingga mereka diurusi oleh negara tetangga," katanya.

Batas lainnya yang masih bermasalah terletak di Bijai Suna, Desa Oben, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yang juga berbatasan dengan distrik Oecusse, Timor Leste, seluas 142,7 ha. "Tidak ada penduduk di lokasi sengketa itu," katanya.

Selain dua batas wilayah yang belum disepakati itu, katanya, terdapat satu titik batas yang sudah disepakati antara kedua negara, yakni Subinah, TTU. Namun masyarakat di perbatasan menolak batas wilayah yang telah ditetapkan itu, sehingga sering terjadi konflik antarwarga dua negara di wilayah perbatasan itu. "Kami sudah tempatkan personil TNI untuk mengamankan wilayah itu," katanya.
Sengketa Perbatasan, Satu Pulau Bisa Lepas Sengketa Perbatasan, Satu Pulau Bisa LepasSejumlah warga melambaikan bendera menyambut kedatangan helikopter M1 milik TNI AD saat mendarat di perbatasan Indonesia - Timor Leste di Desa Looluna, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) (4/7). ANTARA/Yudhi Mahatma
Pulau Batek, salah satu pulau terluar yang terletak Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam menjadi milik Timor Leste, jika masalah perbatasan antarnegara di kecamatan itu tak segera diselesaikan.

"Jika mengikuti patok batas pemerintah Timor Leste, maka Pulau Batek akan menjadi milik mereka," kata Kepala Staf Kodim 1604 Kupang, Mayor (Inf) Dwi Kristianto kepada Tempo di Kupang, Jumat, 25 Oktober 2013.

Pulau Batek adalah satu dari empat pulau terluar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dijaga oleh anggota TNI. Empat pulau terluar itu adalah Pulau Batek, Ndana Rote, Ndana Sabu, dan Mengudu di Sumba Timur.

Menurut dia, berdasarkan pemahaman warga Distrik Oekusi, Timor Leste, patok batas antar-kedua negara berada di Nonotuinan atau sungai kecil di bagian barat, sedangkan pemahaman warga dan pemerintah Indonesia batas antar-kedua negara berada di Noelbesi atau sungai besar di bagian timur.

"Jika mengikuti pemahaman batas Timor Leste, maka Pulau Batek masuk ke wilayah Timor Leste, bukan Indonesia," katanya.

Dengan belum adanya kesepakatan batas antar-kedua negara itu, maka ditetapkan zona bebas di Desa Naktuka, Kecamatan Amfoang Timur. Kedua belah pihak dilarang beraktifitas di zona tersebut.

Sementara itu, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki mengatakan penyelesaian masalah batas antara Indonesia dan Timor Leste khususnya di wilayah Naktuka, Kabupaten Kupang menjadi urusan pemerintah pusat, sehingga pemerintah daerah hanya melakukan pendekatan adat agar tidak terjadi konflik di perbatasan kedua negara.

"Jika diserahkan ke pemerintah daerah, pasti masalah sudah selesai, karena dilakukan secara adat," katanya.
  ♞ Tempo 

First 2 F/A-50s to be Delivered in September 2015 for Philippine Air Force



F/A-50 model (photo : pdff)

MANILA (PNA) -- Defense Secretary Voltaire Gazmin on Thursday said that the first two South Korean made F/A-50 "Fighting Eagle" jet aircraft will be delivered by September 2015.

But prior this, Air Force pilots with high jet time and maintenance crews, will be first sent to South Korea for briefing and training.

Gazmin expects delivery of the remaining F/A-50s to be completed within two years after the delivery of the first two.

"And after the F/A-50s, we are hoping that we will soon acquire our first modern fighter aircraft," the defense chief said in Filipino.

The Philippines and South Korea signed the P18.9-billion contract for the 12 F/A-50 units last March 28.

The South Korean jet aircraft can be used to redevelop the supersonic capabilities of the PAF whose last supersonic planes, the Northrop F-5 "Tiger", was retired last 2005.

The F/A-50, as per technical specifications obtained from the Department of National Defense (DND), can carry a total of 10,500lbs of weapons including an internal 20-mm automatic cannon, two short-ranged air-to-air AIM-9 "Sidewinder" missiles and air-to-surface AGM-65 missiles for close-air support.

A guidance kit called the JDAM (joint direct attack munition) is also installed into the F/A-50, allowing it to convert unguided or "dumb bombs" into all-weather smart munitions.

These bombs are outfitted with an inertial guidance system that is tied to a global positioning system receiver to guide the deployed munition intended to precisely hit a specific target, and to minimize collateral damage.

This is the first-ever Philippine Air Force (PAF) aircraft to employ such weapons as the Northrop F-5 "Tiger" and Vought F-8 "Crusader" which are the country's first class supersonic fighters do not have the above-mentioned capabilities.

Both planes are only armed with 20mm cannons, air-to-air missiles and unguided bombs and rockets.

The Philippines retired its F-8 fleet sometime in 1990 due to maintenance costs.

Korean Aerospace Industries (KAI)'s F/A-50 has a top speed of Mach 1.5 or one and half times the speed of sound.

The F/A-50 will act as the country's interim fighter until the Philippines get enough experience of operating fast jet assets and money to fund the acquisition of more capable fighter aircraft.

The F/A-50 design is largely derived from the F-16 "Fighting Falcon", and they have many similarities: use of a single engine, speed, size, cost, and the range of weapons.

The aircraft has a maximum speed of Mach 1.4-1.5. 

(PNA)

Indonesian SAMs break cover, promising enhanced anti-UAV capability

Nick Brown, Editor, IDR, Millbrook Proving Ground - IHS Jane's Defence Weekly Indonesia's new Starstreak-armed light SAM system will also carry LMM, affording the system a surface-to-surface and anti-UAV capability. Source: IHS/Patrick Allen
T
he new Land Rover-based surface-to-air missile (SAM) systems destined for Indonesia went on public display for the first time at the Defence Vehicle Dynamics (DV) exhibition at Millbrook Proving Ground on 25 June.

Indonesia ordered the Thales Starstreak SAMs as part of a wider ForceShield air defence package in January 2014 and is understood to have subsequently signed up to acquire Thales' Lightweight Multirole Missile (LMM) in mid-June. Both missiles share a similar physical footprint and are virtually identical from the warhead back, with exactly the same physical connector on their canisters to link into the pedestal mount, enabling the weapons to be carried in mixed loads.

LMM is primarily an anti-surface weapon - it has been selected for the UK's new Future Anti-Surface Guided Weapon (Light) requirement, for example - but it also offers a limited air-defence capability. Warrant Officer Graham Chastell, a member of the UK Defence And Security Organisation's Export Support Group, told IHS Jane's that the weapon's shaped charge/blast fragmentation warhead offers a better capability against small unmanned aerial vehicles and slow helicopters than the triple-hittile Starstreak.

Three ready-to-fire weapons are carried on a pedestal mounted on Land Rover 110 twin-cab vehicles, outfitted for the role by Hobson Industries. Modifications include building a flat loadbed with fold-out sides to increase the operator area, mechanical stabilisers to steady the platform and limited shielding on the rear of the cab. The Land Rover's traditional cargo area is retained beneath the firing platform, offering storage for six missile reloads and other spares.

Thales refused to specify any delivery dates or discuss build numbers, citing customer confidentiality. However, an Indonesian defence source told IHS Jane's earlier in the year that "the British system consists of five batteries costing USD170 million. Funds have been allocated for both, but the systems have yet to be delivered."
 
Indonesia's new Starstreak SAM vehicles have been outfitted by Hobson Industries and offer space for six canisterised reloads beneath the firing platform. (IHS/Patrick Allen)https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3XILGzzYuPJu1XiSe5QXL7HmpILO8uuMH3UUcZUBHpBL2NTCPNJoFXV7PEQS7ftMGUVAns7rh_HvvETzSzMqdB-ktyQryD4NniWj6R-460uzEcordQySCFiNVY1rVQSezO3_fI68961M/s1600/LML-on-Land-Rover.jpg
Indonesia's new Starstreak SAM vehicles have been outfitted by Hobson Industries and offer space for six canisterised reloads beneath the firing platform. (IHS/Patrick Allen)

  ♞
IHS Janes 

Amunisi Meriam Caesar 155 Akan Diproduksi PT Pindad


Amunisi meriam Caesar 155 mm (all photos : Detik)

Roanne - Sambil menyelam minum air. Itulah yang dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam pengadaan modernisasi alutsista Indonesia. Membeli senjata, tidak hanya sekadar membeli, tapi juga menyerap teknologi. Sebagai contoh, dalam pembelian meriam Caesar 155 yang memiliki daya tembak 39 KM, Indonesia juga memiliki kerjasama dengan Nexter untuk memproduksi amunisinya bersama PT Pindad. 

Bagaimana rupa amunisi berkaliber 155 mm itu? detikcom berkesempatan melihat dan mencoba mengangkat amunisi berwarna hijau di bagian batangnya dan hitam di pucuknya itu. Wow! Sangat berat, berbobot 47 kg. Untuk membopongnya harus menggunakan dua tangan.

Amunisi berbentuk runcing ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah bagian tabung yang berisi mesiu. Bagian kedua adalah sumbu (fuse) yang terletak di bagian ujung yang runcing. Di bagian sumbu ini terdapat timer - berisi angka-angka -, untuk menetapkan kapan amunisi itu meledak setelah didorong oleh meriam. 

Beberapa contoh amunisi meriam Caesar 155 ini dihadirkan saat penyerahan 4 Caesar 155 di ruang workshop pabrik Nexter di Roanne, Prancis, Rabu (25/6/2014). Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin juga sempat berdiri lama melihat amunisi dan berbincang serius dengan pihak Nexter. 


Sjafrie telah mengingatkan Nexter agar segera dibahas mengenai koordinasi dalam pembuatan amunisi itu bersama PT Pindad, sebagai bagian dari kesepakatan yang telah ditandatangani. Saat diingatkan hal ini, M Mike Duckworth, Executive Vice President International Affairs Nexter, menyatakan sangat memahami hal ini dan siap melaksanakannya. 

"Tentunya ke depan kita akan kerjasama, Pindad akan berperan dalam membuat amunisi. Inilah target kemandirian industri pertahanan kita. Kita beli senjata, beli amunisi, kita pelajari juga bagaimana membuat amunisi. Mudah-mudahan 5 tahun ke depan Pindad sudah bisa membuat amunisi kaliber besar untuk meriam 155 mm dan bagaimana membuat amunisi besar untuk artileri lain," kata Sjafrie.

Sebelum meninggalkan pabrik Nexter, Sjafrie juga sempat berbincang serius dengan Duckworth dan mengundang Dirut PT Pindad Sudirman Said dan Danpusenarmed Brigjen TNI Sonhadji. Dalam perbincangan itu, lagi-lagi Sjafrie mengingatkan Nexter agar segera berkoordinasi dengan Pindad dalam kerjasama membuat amunisi. Sudirman Said sebagai dirut Pindad dan Duckworth menegaskan siap untuk berkoordinasi. 

Seperti diketahui, Indonesia membeli 37 unit Caesar 155 dengan biaya US$ 141 juta. Harga ini sudah termasuk dengan 2.000 amunisinya. Caesar 155 merupakan meriam berdaya tembak 39 KM yang terangkut truk, sehingga bisa lebih cepat bergerak.

(Detik)

PTDI Terus Rancang Jet Tempur Untuk Kebutuhan TNI AU

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) terus melanjutkan kegiatannya merancang pesawat jet tempur IF-X (Indonesian Fighter Experimental), melalui Kegiatan System Requirement Review (SRR).

Dalam kegiatan SSR tersebut, sejumlah pemangku kepentingan diikutkan, antara lain Kemhan, TNI-AU, KKIP, Bappenas, BPPT, LAPAN, Perguruan Tinggi (ITB, UI, ITS, UGM dan UNDIP) serta beberapa industri lokal terkait seperti PT.LEN, CMI, dan InfoGlobal.

Jet tempur yang dirancang bersama dengan Korea Selatan ini disebut-sebut bakal menyaingi F18, dan harganya pun juga lebih murah.

Dalam siaran pers, Kamis (26/6/2014), PTDI mengatakan, SRR merupakan salah satu tahapan dalam program pengembangan dan rancang bangun pesawat tempur. Pada tahapan ini diharapkan program akan mendapatkan berbagai masukan baik teknis maupun non-teknis dari para pakar pada bidangnya masing-masing, secara independen.

Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dibagi dalam lima panel. Satu panel paripurna dan empat panel lainnya meliputi:

★
Requirement study, System Engineering and Technology Readiness.
★
Configuration Design and Analysis
★
Propulsion and Subsystems
★
Air Combat Systems.

Pesawat tempur KF-X/IF-X dirancang bangun bersama oleh para ahli dari Indonesia dan Korea Selatan. Sejak tahun 2011 lalu, tim dari kedua bangsa telah bekerja keras di Korea Selatan untuk menghasilkan konfigurasi yang bisa memenuhi kebutuhan dan persyaratan operasi Angkatan Udara kedua negara.

Pesawat ini masuk dalam kategori generasi 4,5 yang kemampuannya akan melebihi sejumlah pesawat tempur produk negara lain. Dengan kemampuannya itu diharapkan akan menjadi salah satu pilihan utama bagi sejumlah negara yang membutuhkan pesawat tempur. Sementara untuk pesawat IF-X dirancang bangun sendiri oleh putera-puteri bangsa Indonesia berdasarkan persyaratan operasi murni dari Angkatan Udara Republik Indonesia.

Dengan penyelenggaran acara tersebut di atas, diharapkan tim KFX/IFX mendapatkan masukan untuk dapat dijadikan pegangan dalam melakukan tindakan ataupun berupa rekomendasi untuk perbaikan rancang bangun (desain).

“Bagaimanapun bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan program pesawat tempur yang kita rancang sekarang ini bukan saja akan menjadi salah satu sumber kekuatan alutsista dalam negeri, melainkan juga akan menjadi salah satu posisi tawar NKRI yang diperhitungkan. Putera-puteri terbaik bangsa yang terlibat dalam rancang bangun pesawat tempur KF-X/IF-X adalah para pionir yang melahirkan generasi pertama pesawat tempur dan ini akan menjadi bagian sejarah penting bangsa Indonesia ke depan,” tutur Direktur Utama PTDI Budi Santoso.

Pesaing pesawat ini adalah F18 buatan Amerika Serikat dan Dessault Rafale buatan Prancis. Produksi tipe IFX di dalam negeri menghemat pengeluaran anggaran karena harga jual lebih murah.

Pesawat untuk varian Indonesia yakni IFX akan diproduksi di markas PTDI di Bandung, Jawa Barat. Jet tempur KFX mulai diproduksi secara massal pada tahun 2020. Saat ini tenaga ahli PTDI sedang mempersiapkan rancangan pesawat tempur generasi 4,5 tersebut.
  ♞ detik 

★ Radar Canggih LPI Buatan Indonesia ★

Jakarta ☆ Kecanggihan dan nilai battle proven kapal perang modern tidak terlepas dari persenjataan dan teknologi radarnya. Seperti radar Low Probability of Intercept (LPI), radar yang dirancang untuk menjadikan kapal sulit dideteksi kapal musuh.

Rata-rata teknologinya dari negara besar seperti Scout MK2 buatan Thales Eropa, SPN 730 buatan Selex ES Inggris, dan negara-negara besar lainnya.

Meski tertinggal dalam teknologi persenjataan, Indonesia ternyata sejak 2009 telah membuat radar canggih ini. Namanya LPI Radar-IRCS, radar buatan PT Infra RCS Indonesia ini menggunakan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FM-CW).

"Dengan teknologi ini maka daya pancar yang digunakan sangat rendah yaitu di bawah 10 watt untuk dapat memperoleh jarak jangkauan radar yang luas. Di Asia belum ada (produsen), apalagi di Asia Tenggara. Rata-rata mereka menggunakan produk negara maju," ucap Technical Advisor PT Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di Plaza Aminta, Jakarta Selatan.

Dengan menggunakan frekuensi X-band, Doopler speed bisa mencapai maksimal 40 knot membuat radar LPI semakin penting untuk pengawasan rahasia, pelacakan target, dan operasi siluman. Selain radar LPI, PT Infra RCS Indonesia juga telah memproduksi Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) dan Electronik Support Measures (ESM).

"Radar kami bersifat Low Probability of Intercept kita jual satu paket dengan ECDIS bisa juga dengan ESM. Alat ini cocok untuk electronic warfare. Radar LPI dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh menggunakan detektor yang disebut ESM. Keunggulan radar LPI, musuh akan melihat kita sebagai kapal sipil," tutur Mashruri.

Selain untuk kapal laut, Radar LPI juga dikembangkan untuk wilayah perairan seperti portable coastal radar yang bisa digunakan secara mobile. Radar ini memiliki keunggulan yaitu ukuran lebih kecil, jangkauan deteksi cukup jauh, dengan probabilitas rendah membuat radar ini tidak mudah diketahui pihak lain.

"Sementara untuk di wilayah pantai untuk tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL. Seperti kita tahu garis pantai kita kan panjang jadi perlu sekali radar pengawas pantai. Karena wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing, lalu juga illegal fishing, kecelakaan, penyelundupan dan lain-lain. Seperti di Maluku, Kalimantan, dan lain-lain," ungkap pria lulusan sebuah universitas Australia ini.

Untuk komponen radar, menurut Mashruri, ada beberapa material masih impor dari negara lain karena belum tersedia di dalam negeri. Ia berharap adanya kebijakan dari pemerintah agar nilai komponen lokal pembuatan radar tanah air bisa meningkat.

"Ada yang kita buat sendiri seperti software dan beberapa hardware. Dan memang untuk material ada yang kita impor ya karena di dalam negeri nggak ada," keluhnya.

Sementara di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia, Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan saat ini timnya masih berfokus untuk mengembangkan radar Coastal dan ke depan akan mengembangkan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS).

"Untuk Infra ini kan punya misi untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia. Sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan," jelas Wiwiek.

Apakah akan mencoba menjual ke luar negeri? "Rencana ada, tapi masih fokus untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Kalau nggak kita akan bergantung dengan negara lain terus dan ini menjadi tantangan bagi kami untuk memajukan teknologi bangsa," jawab wanita berkerudung ini.